<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d11454894\x26blogName\x3dlife+goes+on\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dTAN\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://bogablogger.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den_US\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://bogablogger.blogspot.com/\x26vt\x3d6766887043850976146', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>
 

My Small Garden in Malang

Friday, January 03, 2014
Home gardening atau 園芸 (Engei) adalah salah satu acara tv favorit kami sewaktu masih bersekolah di Jepang. Saat itu tak sabar rasanya ingin segera pulang ke Malang untuk membuat kebun kecil sendiri. Alhamdulillah sepulang dari Jepang, hobby ini bisa tersalurkan apalagi cuaca dan iklim Malang sangat Mendukung. Home gardening ini merupakan cara saya menghilangkan kepenatan ditengah kesibukan mengajar dan meneliti di kampus (Universitas Negeri Malang). Walaupun kami sebetulnya tidak mempunyai lahan yang luas, dengan ukuran halaman yang tidak seberapa ditambah modal semangat, jadilah small garden (http://goo.gl/X8QbGG) yang telah kami tanami dengan berbagai jenis sayur mayur dan buah-buahan (tergantung musim).




 Pucuk dicinta ulam tiba, kebetulan suami orang BPTP, jadi setiap kali tugas keluar kota oleh-olehnya pasti
berbagai jenis bibit, belum lagi kalau ada tugas conference ke luar negeri yang dicari adalah bibit sayur, oleh - oleh yang sangat berharga buat saya (^o^). Tapi sebetulnya hobby itu menular, home gardening ini adalah hobby suami, tapi akhirnya menular ke saya. Begitu pertama kali bertanam, butuh usaha besar bagi saya, karena saya phobia cacing tanah. Awalnya setiap kali ketemu cacing pasti menjerit, tapi lama-lama kebiasaan jadi sudah tidak jijik lagi. Sepulang dari Jepang, kebiasaan memisahkan sampah organik dan non organik tetap kami pertahankan, di sebelah dapur persis ada sedikit lahan yag bisa kami jadikan tempat untuk gali lubang tutup lubang. Rata-rata lubang yang kami buat dua bulan sudah penuh, untuk menghindari lalat dan bau busuk setiap kali sampah menumpuk, kami segera menutup dengan tanah. Saya sangat mengapresiasi kegiatan bank sampah, berharap suatu hari di perumahan kami bisa membuat bank sampah. Saya membayangkan setiap orang (mulai dari anak bayi sampai orang tua) akan menghasilkan sampah organik dan non organik setiap harinya. Sampah tidak akan menjadi masalah besar kalau dikelola dengan baik.   Lingkungan akan ramah kepada manusia jika manusia ramah kepadanya.

Selain  sayuran segar, banyak hal positif yang saya dapatkan dari home gardening ini, utamanya filosofi hidup : "jangan pernah menunggu panen kalau tidak pernah menanam",  "segala usaha pasti akan ada hasilnya". Dari sini saya mulai menghargai kerja keras petani. Walaupun bekerja di lahan sempit, lumayan harus berpanas-panasan. Ini hanya hobby bagi saya tapi bagi petani adalah pekerjaan utama mereka.


Kazuyoshi Saito / Otukaresama no Kuni

Wednesday, February 23, 2011
11:31 PM :: 0 comments ::

Kuntoro Boga :: permalink


Monday, January 03, 2011
Tell me not, in mournful numbers,
Life is but an empty dream!
For the soul is dead that slumbers,
And things are not what they seem.

Life is real! Life is earnest!
And the grave is not its goal;
Dust thou art, to dust returnest,
Was not spoken of the soul.

Not enjoyment, and not sorrow,
Is our destined end or way;
But to act, that each tomorrow
Find us farther than today.

Art is long, and Time is fleeting,
And our hearts, though stout and brave,
Still, like muffled drums, are beating
Funeral marches to the grave.

In the world's broad field of battle,
In the bivouac of Life,
Be not like dumb, driven cattle!
Be a hero in the strife!

Trust no Future, however pleasant!
Let the dead Past bury its dead!
Act, --act in the living Present!
Heart within, and God overhead!

Lives of great men all remind us
We can make our lives sublime,
And, departing, leave behind us
Footprints on the sands of time;

Footprints, that perhaps another,
Sailing o'er life's solemn main,
A forlorn and shipwrecked brother,
Seeing, shall take heart again.

Let us, then, be up and doing,
With a heart for any fate;
Still achieving, still pursuing,
Learn to labour and to wait.

Psalms of life, Henry Wadsworth Longfellow
11:44 AM :: 0 comments ::

Kuntoro Boga :: permalink


Sang Gubernur - Bukan jabatan politis semata

Wednesday, July 18, 2007
Kalau diadakan polling gubernur yang paling populer di Jepang saat ini, pilihan teratas kemungkinan besar akan jatuh pada sosok Higashikokubara chiji, 49 tahun. Chiji adalah sebutan untuk pejabat gubernur sebuah prefecture di Jepang. Saya tertarik menulis profilnya karena seringnya melihat sosok pejabat ini muncul di berbagai program TV Jepang. Berbagai hal dia lakukan untuk mempromosikan kemajuan perekonomian prefecturenya saat ini. Tahun lalu, sebagaian besar penduduk Miyazaki masih meragukan kemampuannya. Setelah melalui pemilu daerah yang ketat dan berhasil diemangnkannya, Higashikokubara resmi menjadi Chiji Prefektur Miyazaki terhitung sejak Januri, 2007. Kini, setelah beberapa bulan menjabat sebagai Gubernur, dia mulai berhasil membuktikan janji-janji semasa kampanye dan memperoleh simpati serta dukungan dari mayoritas rakyat Miyazaki.
Hal spektakuler yang dia raih diawal masa jabatannya adalah, hanya dalam dua minggu kepemimpinannya, Miyazaki Prefecture sudah mendapat pemasukan uang sebesar 16 billion yen dari berbagai program dan liputan TV Jepang. Hal yang tidak pernah dilakukan chiji di Jepang sebelum ini. Sosok dan perjalanan karir Higashikokubara mungkin hampir sama dengan Arnold Schwarzenegger. Dimulai dari dunia hiburan sebagai seorang warai geinin/pelawak dengan nama stage "Sonomama Higashi", hingga saat ini berhasil menjadi seorang gubernur. Perjuangan dia untuk meraih kursi gubernur pun dilakukan dengan sangat serius. Di usia 42 tahun, mulai meninggalkan panggung hiburan dan kembali ke bangku kuliah dengan mengambil jurusan Ilmu Politik di Waseda University. Hal yang sangat jarang dilakukan oleh artis Jepang sebelumnya. http://www.pref.miyazaki.lg.jp/chiji/profile.html
Miyazaki adalah salah satu prefektur yang terletak di pulau Kyushu. Selain terkenal sebagai daerah penghasil mangga, Miyazaki juga terkenal dengan hasil dari industri peternakan dan pariwisata. Diawal masa jabatannya, serangan wabah flu burung sempat menghantam perekonomian daerah kususnya peternakan ayam di miyazaki. Namun, berkat keseriusan penanganan masalah, hal ini pun dapat segera diatasi pemerintah daerah dengan melokalisasi daerah peternakan yang disinyalir terjangkit virus ini. Kepercayaan publik akan keamanan hasil peternakan dari miyazaki pun dapat dipulihkan salah satunya berkat kerja keras Higashikokubara Chiji dengan mempromosikan kembali hasil peternakan kususnya daging ayam produk Miyazaki. Berbagai upaya promosi juga dilakukan dengan memanfaatkan sosoknya sebagai publik figure. Saat ini dia lebih dikenal sebagai seorang icon Public Relation handal dari sebuah Prefecture dengan muncul diberbgai saluran TV. Dimanapun dia muncul dan berada selalu dalam rangka mempromosikan produk dan potensi wisata daerahnya. Hasilnya hanya dalam hitungan bulan Miyazaki mengalami peningkatan pendapatan yang fantastis , kususnya dari sektor pertanian dan pariwisata. Daerah ini menjadi makin populer di Jepang sebagai salah propinsi yang memiliki berbagai potensi dan sumberdaya alam yang eksotis.
Mungkin hal ini patut dicontoh bagi para politisi di negara kita yang berjuang untuk memperebutkan berbagai jabatan publik. Bahwa jabatan tersebut bukanlah hal yang hanya bermakna secara politis namun harus memberikan dampak langsung bagi kesejahteraan rakyat banyak yang memberikan amanah kepadanya. Sebagai contoh, seorang Higashikokubaru Chiji di setiap penampilannya di acara resmi TV ataupun variety show, tidak lupa selalu membawa "omiyage" (oleh-oleh khas) dari Miyazaki, baik itu buah-buahan, makanan khas, minuman dll, ini sekaligus bentuk promosi langsung kepada jutaan pemirsa. Dia selalu berupaya memperkenalkan potensi daerahnya langsung kepada konsumen Jepang.
Sebagai seorang Gubernur, beliau adalah seorang yang sangat low profile, pejabat adalah pelayan masyarakat. Dia selalu memberi kesan merakyat, selalu menunduk lebih rendah dari lawan bicara, bowing down lebih banyak dari pada tamu yang dihadapinya. Walaupun saya bukan warga Miyazaki, saya sangat simpati kepadanya dan berharap semoga Higashi Chiji bisa mengemban amanah rakyatnya sampai akhir masa jabatannya nanti.
Saya sangat berharap para gubernur dan pejabat di republik Indonesia tercinta bisa seperti Higashikokubara chiji. Masih banyak diantara kita yang tidak tau sumber daya yang ada di propinsi kita sendiri ataupun daerah lain. Nah, PR bagi Chiji-chiji Indonesia untuk dapat menjadi Public Relation dan agen pembangunan yang baik bagi daerahnya.


Don't give up - Makenaide

Saturday, June 30, 2007

......Don't give up, keep running A little further, to the end. No matter how far apart we are. Our hearts are together. Chase your distant dreams.

Don't give up, see Your goals are getting closer. No matter how far apart we are. Our hearts are together. Feel my eyes on you.......

10:47 PM :: 0 comments ::

Kuntoro Boga :: permalink


Huis Ten Bosch

Monday, November 20, 2006
Huis Ten Bosch adalah kampung Belanda yang berada di Sasebo,Nagasaki, Jepang. Tempat ini mengadospi pemandangan , suasana dan bentuk bangunan abad ke 17 , negeri kincir angin, Belanda. Sesuai dengan namanya, di lokasi ini ada replika salah satu istana resmi keluarga kerajaan Belanda yang bernama Huis Ten Bosch, yang keindahan bangunannya tak kalah dengan asli.

Pada Oktober 1988 oleh Yoshikuni Kamichika, Huis ten Bosch atau Nagasaki Holland village ini mulai di bangun dan di buka pada Maret 25, 1992. Karena kampung ini juga menganut filosofi penghijauan, maka di tanamlah sekitar 400.000 pohon, ada yang di impor langsung dari Belanda. Bunga-bunga an disini ditanam tergantung musim. Pada musim semi ditanam sekitar 300.000 tulip, dengan aneka ragam warna dan jenis. Proyek ini menelan dana sekitar $2.5 billion.
Di tempat ini menyediakan hotel,restoan, tempat entertainment keluarga , seperti teater,istana teddy bear, evenue permainan anak dll.Dengan membayar 3600 yen untuk tiket masuk, bebas berkeliling dengan menggunakan fasilitas yang tersedia seperti kapal layar,bs, atau sepeda (di sewa).



Kesan kampung Belanda makin terasa karena tersedia kincir angin. Beberapa replika bangunan terkenal yang ada di Belanda juga di bangun disini, salah satunya Domtoren. Bangunan ini letaknya di pusat kota. Pengunjung bisa naik sampai di puncak dan melihat kampung Belanda ini dari atas. Uniknya lagi, semua nama stasiun di menggunakan nama kota Belanda misalnya utrecht,amsterdam. Untuk mencapai utrecht ini bisa di tempuh dengan jalan kaki (lumayan jauh sih), paling sip kalau pake kapal, serasa berada di Belanda karena di melewati perumahan di atas sungai kecil lengkap dengan angsa putihnya, hanya suara pemandu dalam bahasa Jepang yang mengingatkan kita bahwa kita sedang berada di Jepang hehehehehe.....!

Gambar di samping ini adalah domtoren yang ada di Belanda dan di Nagasaki. Karena letaknya yang di tengah, seakan-akan menjadi landmark kota ini.
Tinggi menara saman dengan yang asli 112 meter. Konon kabarnya menara yang asli dibangun pada tahun 1321 sampai 1382 sebagai menara gereja.Menara di kampung Belanda ini hanya di gunakan untuk wisata saja.
Awal bulan ini kami sempat mengunjungi kota ini lagi. Jarak dari Saga ke kampung Belanda ini makan waktu 2 jam naik kereta. Di stasiun sudah tersedia paket tour seharga 7500 yen, sudah termasuk pass ticket. Walaupun sudah yang ketiga kali dan mas Boga yang keempat kali berkunjung ke tempat ini, tapi kali ini ada yang berbeda, kami pergi bareng Nabil dan Nuk(adik saya) dan sempat melihat suasana malam kota ini.Pada musim gugur, hanya bunga musim panas yang ada, dan kesan natal sudah mulai terasa. Dimana-mana bisa di lihat pohon yang dihiasi lampu dan bola dan kado warna warni.



Liputan Lebaran

Friday, November 10, 2006
Harusnya tulisan ini di publish bulan lalu, berhubung karena kesibukan lab. dan main sama Nabil, mood untuk nulis di blog baru datang hari ini heheheh,tapi mumpung masih dibulan syawal (masih ada hubungannya), ma iikka ...!!
Seperti tahun-tahun sebelum nya , lebaran tahun ini dilaksanankan di International House lt 1. Setiap orang membawa masakan untuk di-santap beramai-ramai. Sejak pertama kali berlebaran di Saga, kare ayam Bangladesh menjadi masakan favorit saya, rasa spice nya lebih kuat dibandingkan kare Indonesia,dan kuahnya lebih kental hehhehe ....gomen jadi gurume repota (reporter masakan).

Sampai hari Minggu sebelumnya kami masih bingung penentuan Syawal karena belum ada keputusan dari persatuan muslim Jepang. Menjelang malam penetuan Syawal baru beredar di milis2 bahwa 1 Syawal jatuh pada hari Selasa. Berhubung jatuh pada hari kerja maka selepas sholat ied, setiap orang kembali ke rutinitas masing-masing, mungkin terkecuali kami yang sengaja meliburkan diri hehehe alias bolos.

Sebagai penutup acara, foto bareng dulu di depan Intl. Student House,kebetulan yang foto bareng hanya orang Indonesia dan Malaysia saja, dari negara lain sudah lebih dulu pulang.



Sunday, October 22, 2006



Nabil latest picture

Tuesday, October 17, 2006


klik here: http://www.flickr.com/photos/82826817@N00/show/


Father and Son