Kalau diadakan polling gubernur yang paling populer di Jepang saat ini, pilihan teratas kemungkinan besar akan jatuh pada sosok Higashikokubara chiji, 49 tahun. Chiji adalah sebutan untuk pejabat gubernur sebuah prefecture di Jepang. Saya tertarik menulis profilnya karena seringnya melihat sosok pejabat ini muncul di berbagai program TV Jepang. Berbagai hal dia lakukan untuk mempromosikan kemajuan perekonomian prefecturenya saat ini. Tahun lalu, sebagaian besar penduduk Miyazaki masih meragukan kemampuannya. Setelah melalui pemilu daerah yang ketat dan berhasil diemangnkannya, Higashikokubara resmi menjadi Chiji Prefektur Miyazaki terhitung sejak Januri, 2007. Kini, setelah beberapa bulan menjabat sebagai Gubernur, dia mulai berhasil membuktikan janji-janji semasa kampanye dan memperoleh simpati serta dukungan dari mayoritas rakyat Miyazaki.
Hal spektakuler yang dia raih diawal masa jabatannya adalah, hanya dalam dua minggu kepemimpinannya, Miyazaki Prefecture sudah mendapat pemasukan uang sebesar 16 billion yen dari berbagai program dan liputan TV Jepang. Hal yang tidak pernah dilakukan chiji di Jepang sebelum ini. Sosok dan perjalanan karir Higashikokubara mungkin hampir sama dengan Arnold Schwarzenegger. Dimulai dari dunia hiburan sebagai seorang warai geinin/pelawak dengan nama stage "Sonomama Higashi", hingga saat ini berhasil menjadi seorang gubernur. Perjuangan dia untuk meraih kursi gubernur pun dilakukan dengan sangat serius. Di usia 42 tahun, mulai meninggalkan panggung hiburan dan kembali ke bangku kuliah dengan mengambil jurusan Ilmu Politik di Waseda University. Hal yang sangat jarang dilakukan oleh artis Jepang sebelumnya. http://www.pref.miyazaki.lg.jp/chiji/profile.html
Miyazaki adalah salah satu prefektur yang terletak di pulau Kyushu. Selain terkenal sebagai daerah penghasil mangga, Miyazaki juga terkenal dengan hasil dari industri peternakan dan pariwisata. Diawal masa jabatannya, serangan wabah flu burung sempat menghantam perekonomian daerah kususnya peternakan ayam di miyazaki. Namun, berkat keseriusan penanganan masalah, hal ini pun dapat segera diatasi pemerintah daerah dengan melokalisasi daerah peternakan yang disinyalir terjangkit virus ini. Kepercayaan publik akan keamanan hasil peternakan dari miyazaki pun dapat dipulihkan salah satunya berkat kerja keras Higashikokubara Chiji dengan mempromosikan kembali hasil peternakan kususnya daging ayam produk Miyazaki. Berbagai upaya promosi juga dilakukan dengan memanfaatkan sosoknya sebagai publik figure. Saat ini dia lebih dikenal sebagai seorang icon Public Relation handal dari sebuah Prefecture dengan muncul diberbgai saluran TV. Dimanapun dia muncul dan berada selalu dalam rangka mempromosikan produk dan potensi wisata daerahnya. Hasilnya hanya dalam hitungan bulan Miyazaki mengalami peningkatan pendapatan yang fantastis , kususnya dari sektor pertanian dan pariwisata. Daerah ini menjadi makin populer di Jepang sebagai salah propinsi yang memiliki berbagai potensi dan sumberdaya alam yang eksotis.
Mungkin hal ini patut dicontoh bagi para politisi di negara kita yang berjuang untuk memperebutkan berbagai jabatan publik. Bahwa jabatan tersebut bukanlah hal yang hanya bermakna secara politis namun harus memberikan dampak langsung bagi kesejahteraan rakyat banyak yang memberikan amanah kepadanya. Sebagai contoh, seorang Higashikokubaru Chiji di setiap penampilannya di acara resmi TV ataupun variety show, tidak lupa selalu membawa "omiyage" (oleh-oleh khas) dari Miyazaki, baik itu buah-buahan, makanan khas, minuman dll, ini sekaligus bentuk promosi langsung kepada jutaan pemirsa. Dia selalu berupaya memperkenalkan potensi daerahnya langsung kepada konsumen Jepang.
Sebagai seorang Gubernur, beliau adalah seorang yang sangat low profile, pejabat adalah pelayan masyarakat. Dia selalu memberi kesan merakyat, selalu menunduk lebih rendah dari lawan bicara, bowing down lebih banyak dari pada tamu yang dihadapinya. Walaupun saya bukan warga Miyazaki, saya sangat simpati kepadanya dan berharap semoga Higashi Chiji bisa mengemban amanah rakyatnya sampai akhir masa jabatannya nanti.
Saya sangat berharap para gubernur dan pejabat di republik Indonesia tercinta bisa seperti Higashikokubara chiji. Masih banyak diantara kita yang tidak tau sumber daya yang ada di propinsi kita sendiri ataupun daerah lain. Nah, PR bagi Chiji-chiji Indonesia untuk dapat menjadi Public Relation dan agen pembangunan yang baik bagi daerahnya.
Huis Ten Bosch adalah kampung Belanda yang berada di Sasebo,Nagasaki, Jepang. Tempat ini mengadospi pemandangan , suasana dan bentuk bangunan abad ke 17 , negeri kincir angin, Belanda. Sesuai dengan namanya, di lokasi ini ada replika salah satu istana resmi keluarga kerajaan Belanda yang bernama Huis Ten Bosch, yang keindahan bangunannya tak kalah dengan asli.
Pada Oktober 1988 oleh Yoshikuni Kamichika, Huis ten Bosch atau Nagasaki Holland village ini mulai di bangun dan di buka pada Maret 25, 1992. Karena kampung ini juga menganut filosofi penghijauan, maka di tanamlah sekitar 400.000 pohon, ada yang di impor langsung dari Belanda. Bunga-bunga an disini ditanam tergantung musim. Pada musim semi ditanam sekitar 300.000 tulip, dengan aneka ragam warna dan jenis. Proyek ini menelan dana sekitar $2.5 billion. Di tempat ini menyediakan hotel,restoan, tempat entertainment keluarga , seperti teater,istana teddy bear, evenue permainan anak dll.Dengan membayar 3600 yen untuk tiket masuk, bebas berkeliling dengan menggunakan fasilitas yang tersedia seperti kapal layar,bs, atau sepeda (di sewa).
Kesan kampung Belanda makin terasa karena tersedia kincir angin. Beberapa replika bangunan terkenal yang ada di Belanda juga di bangun disini, salah satunya Domtoren. Bangunan ini letaknya di pusat kota. Pengunjung bisa naik sampai di puncak dan melihat kampung Belanda ini dari atas. Uniknya lagi, semua nama stasiun di menggunakan nama kota Belanda misalnya utrecht,amsterdam. Untuk mencapai utrecht ini bisa di tempuh dengan jalan kaki (lumayan jauh sih), paling sip kalau pake kapal, serasa berada di Belanda karena di melewati perumahan di atas sungai kecil lengkap dengan angsa putihnya, hanya suara pemandu dalam bahasa Jepang yang mengingatkan kita bahwa kita sedang berada di Jepang hehehehehe.....!
Gambar di samping ini adalah domtoren yang ada di Belanda dan di Nagasaki. Karena letaknya yang di tengah, seakan-akan menjadi landmark kota ini. Tinggi menara saman dengan yang asli 112 meter. Konon kabarnya menara yang asli dibangun pada tahun 1321 sampai 1382 sebagai menara gereja.Menara di kampung Belanda ini hanya di gunakan untuk wisata saja. Awal bulan ini kami sempat mengunjungi kota ini lagi. Jarak dari Saga ke kampung Belanda ini makan waktu 2 jam naik kereta. Di stasiun sudah tersedia paket tour seharga 7500 yen, sudah termasuk pass ticket. Walaupun sudah yang ketiga kali dan mas Boga yang keempat kali berkunjung ke tempat ini, tapi kali ini ada yang berbeda, kami pergi bareng Nabil dan Nuk(adik saya) dan sempat melihat suasana malam kota ini.Pada musim gugur, hanya bunga musim panas yang ada, dan kesan natal sudah mulai terasa. Dimana-mana bisa di lihat pohon yang dihiasi lampu dan bola dan kado warna warni.
Harusnya tulisan ini di publish bulan lalu, berhubung karena kesibukan lab. dan main sama Nabil, mood untuk nulis di blog baru datang hari ini heheheh,tapi mumpung masih dibulan syawal (masih ada hubungannya), ma iikka ...!! Seperti tahun-tahun sebelum nya , lebaran tahun ini dilaksanankan di International House lt 1. Setiap orang membawa masakan untuk di-santap beramai-ramai. Sejak pertama kali berlebaran di Saga, kare ayam Bangladesh menjadi masakan favorit saya, rasa spice nya lebih kuat dibandingkan kare Indonesia,dan kuahnya lebih kental hehhehe ....gomen jadi gurume repota (reporter masakan).
Sampai hari Minggu sebelumnya kami masih bingung penentuan Syawal karena belum ada keputusan dari persatuan muslim Jepang. Menjelang malam penetuan Syawal baru beredar di milis2 bahwa 1 Syawal jatuh pada hari Selasa. Berhubung jatuh pada hari kerja maka selepas sholat ied, setiap orang kembali ke rutinitas masing-masing, mungkin terkecuali kami yang sengaja meliburkan diri hehehe alias bolos.
Sebagai penutup acara, foto bareng dulu di depan Intl. Student House,kebetulan yang foto bareng hanya orang Indonesia dan Malaysia saja, dari negara lain sudah lebih dulu pulang.
Selamat menjalankan ibadah puasa. Semoga di bulan yang suci ini Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan kemudahan kepada kita semua untuk memperbanyak ibadah kepada-Nya. Tak terasa tahun ini adalah tahun ke lima kami berpuasa di Saga, berarti sudah lima tahun pula kami kehilangan nikmat nya puasa di tengah-tengah keluarga besar. Puasa di negara yang bukan mayoritas muslim punya tantangan tersendiri, apalagi masyarakat Jepang sebagian besar tidak percaya pada Tuhan. Ramadhan kali ini sama dengan ramadhan sebelumnya, shokudo(kantin) kampus terbuka seperti biasa, tepat pukul 12 siang, mahasiswa sudah banyak yang antri untuk makan siang, teman lab. masih makan bento di ruangan dst. Bedanya Ramadhan kali ini jatuh pada bulan September (awal musim gugur), jadi udara sudah lumayan bersahabat berkisar 25-28 derajat celcius. Tidak bisa kami bayangkan, bagaimana ramadhan tahun depan yang jatuh pada musim panas, pasti akan terasa lebih berat. Tapi Insya Allah akan dimudahkan oleh-Nya. Karena Saga adalah propinsi kecil di Jepang, jadi tidak bisa kita temui yang namanya mushallah apalagi masjid. Jumlah orang musilim di Saga lumayan banyak sekitar 100 orang. Untuk sholat berjamaah biasanya mahasiswa muslim, meminjam Kokusai kouryu kaikan (Tempat pertemuan International House), lumayanlah yang penting masih bisa sholat berjamaah. Bicara tentang sholat, saya langsung ingat kejadian tahun 4 tahun yll. Saat itu saya dan beberapa teman ke Karatsu (nama kota di Saga) liat festival Karatsu kunchi. Karena tidak ada tempat sholat, akhirnya kami memutuskan sholat di dalam taman yang di kelilingi pagar. Setelah selesai salam, kami pun kaget, tak terasa sudah jadi tontonan org, di sekiling pagar sudah banyak orang yang berdiri dan memandang aneh ke arah kami, ada pula yang sempat foto2. Karena belum bisa baca kanji, kami tidak tahu kalau di situ tertulis di larang masuk, akhirnya di antara kerumunan orang itu, ada petugas yang menegur, akhirnya kami pun ber - sumimasen(maaf) ria hehehehehe.....
Judul ini bukan lagu Iwan Fals, melainkan nasi kotak dalam bahasa Jepang. Bento berasal dari kata ekiben atau eki bento (nasi kotak stasiun) atau nasi kotak yang di jual di stasiun. Setiap ekiben di jepang mempunyai ciri khas rasa yang berbeda. Hokkaido misalnya,terkenal dengan hasil laut berupa cumi (ika), bento yang banyak dijual adalah ika bento. Sama halnya dengan propinsi Saga terkenal dengan kepiting -nya, sehingga orang yang melancong ke Saga pasti ingin mencicipi kani ekiben Saga(nasi kotak kepiting Saga)
Karena cara makan yang doko demo taberareru atau makan dimana saja ok alias praktris bukan doko demo doa nya doraemon... hehehe ekiben merupakan pilihan yang tepat, termasuk waktu hitori tabi (jalan sendiri) ke Oita, karena jadwal gakkai (conference) yang giri-giri alias mepet, jadilah ekiben di oita jadi pilihan. Tetapi ekiben saga still the best for me, isinya cuma salmon panggang atau ikan saba panggang dilengkapi dengan tsukemono (acar),asinan sawi, hijiki,potato sarada dan tak lupa kani korokke kurimu (kroket kepiting krim) hmmm..mata tabetai na, jadi ingat waktu hamil dulu, karena masih malas masak sepulang dari kensha (cek kesehatan) di rumah sakit, pasti singgah ke eki dulu beli bento ini. Di stasiun kecil, bento di jual seperti pedagang asongan yang lalu lalang menawarkan dagangan, tetapi tidak seperti di Indonesia yang menjual jumlahnya banyak dan tidak teratur, penjual bento model ini disetiap eki hanya satu orang dan memakai seragam, jadi tidak perlu berebutan dengan pedagang lainnya dalam menawarkan dagangan. Bento yang dijual pun bukan buatan sendiri melainkan buatan perusahaan besar dan kecil yang ada di sekitar stasiun.
Kekhasan bento tidak hanya dari segi rasa melainkan cara membungkus. Sepintas terlihat seperti kado ulang tahun, pertama kali membeli bento di Hakata eki, sayang rasanya untuk memakan bento yang dibeli, karena penataan yang mempertimbangkan warna makanan sehingga berkesan mempunyai nilai seni. Orang Jepang sangat menyukai sesuatu yang terkesan formal dan rapih, mereka sangat mempertimbangkan kwalitas bahan, sehingga aman untuk di konsumsi.
Budaya bento tidak hanya di stasiun melainkan sampai kerumah. Hampir semua anak sekolah di Jepang mempunyai kebiasaan membawa bento. Selain higienis karena buatan rumah, juga ekonomis. Setiap ibu di Jepang berusaha membuat bento yang menarik dari segi tampilan dan juga tak kalah dalam hal rasa. Sehingga membuka bento merupakan waktu yang paling di tunggu anak-anak, karena tiap hari bentuk dan rasa nya yang surprise.
wah..jadi tidak sabar rasanya ingin membuatkan Nabil kun bento buat bekal ke sekolah hehehehe......