<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d11454894\x26blogName\x3dlife+goes+on\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dTAN\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://bogablogger.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den_US\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://bogablogger.blogspot.com/\x26vt\x3d6766887043850976146', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>
 

"Kaban Mochi" - briefcase carriers

Wednesday, November 30, 2005
Kaban mochi kalau di terjemahkan ke bahasa Indonesia berarti "pembawa tas". Istilah ini sudah tidak asing lagi bagi mahasiswa di Jepang. Awalnya saya juga agak aneh baca judulnya, kesannya jadi anak bawang. Jadi ingat kalau tujuh belasan, ada lomba baris berbaris untuk anak sekolah, yg tidak terpilih biasanya jadi tukang bawa minuman. Nah mungkin seperti itulah arti kaban mochi sepintas lalu.

Tadi malam ada acara TV special mengenai kaban mochi ini. Ternyata jauh dari dugaan saya sebelumnya tentang kaban mochi "anak bawang" ini . Untuk jadi Kaban Mochi ini ternyata harus melewati seleksi yang ketat , karena peminatnya sangat banyak. Kebanyakan yang ikut adalah mahasiswa beberapa universitas prestisius di sekitar Kanto (daerah Tokyo) misalnya Tokyo Daigaku, Waseda daigaku dst. Nah,apakah kaban mochi itu sebenarnya ? Seperti arti sebenarnya yaitu pembawa tas, yang lulus seleksi memang betul-betul jadi tukang bawa tas. Tapi bukan tas nya orang sembarangan, tapi orang-orang yang telah sukses misalkan CEO perusahaan besar atau businessman dalam istilah Jepangnya Sacho.

Kalau menurut saya program ini lebih dekat dengan istilah internship (magang), tapi program ini sengaja dibuat lebih non formal. Kerja kaban mochi ini Cuma berlangsung 5 hari kerja saja. Selama 5 hari itu para kaban mochi ini siap jadi ekornya Sacho, kemanapun Sacho pergi dia harus ikut, karena programnya yang singkat maka mereka yg terpilih ini harus betul- betul memanfaatkan waktu. Selain bawa tas , Kaban mochi ini diperbolehkan mengikuti Sacho sampai ke ruang rapat yang sifatnya tertutup bagi orang luar. Nah , disitulah keuntungan jadi kaban mochi, mereka bisa secara langsung belajar banyak hal, mulai dari cara memimpin suatu perusahaan, mengelola, melobi dan banyak lagi. Pengalaman yang paling berharga menurut saya adalah mereka mendapat motivasi langsung dari orang- orang yang telah sukses, dan kebanyakan dari Sacho ini juga memulai dari bawah.

Semalam yang diliput adalah Mahasiswa Tokyo Daigaku yang lulus seleksi di perusahaan Livedoor. Siapa yang tidak kenal dengan Livedoor ? pemiliknya sempat jadi fenomena di kalangan businessman top Jepang. Bagaimana tidak, Livedoor ini dibangun oleh Takafumi Horie yang baru berumur 33 tahun , anak muda yang istilahnya anak baru kemarin bagi kalangan businessman sepuh Jepang. Horie Sacho atau Horie mon ini membeli sebagian saham Fuji television dan dia masih berusaha untuk memiliki keseluruhan saham Fuji TV , tapi untung ada undang- undang Jepang yang tidak memperbolehkan memiliki keseluruhan saham ,tetapi hanya joint director company. Sekarang perusahaan internet service provider yang dibangun pada tahun 1996 itu sudah mempunyai staf 1.288 orang. Sekarang dia sudah menjadi ikon pengusaha muda Jepang. Kantor pusatnya berada di gedung Ropongi Hills, gedung bergengsi yang ada di Jepang.

Horie Sacho yang dikenal dengan Horie mon (mungkin Horie Doraemon). Seperti Doraemon yang punya pintu ajaib, Horiemon ini juga punya banyak mimpi yang sebentar lagi terwujud. Dia berencana investasi di proyek luar angkasa atau lebih dikenal Japan Space Dream. Selain itu dia sempat meramaikan Pemilu Jepang kemarin walaupun kalah, namun dia tetap menghibur pendukungnya dengan berjanji akan bergabung lagi di Pemilu akan datang.

Back to kaban mochi nya Horie sacho ini, dia diberi tahu kunci keberhasilan Horie Sacho. Katanya, kalau ingin berbuat sesuatu lakukanlah sekarang, jangan tunda besok., klise memang kedengarannya tapi dengan semboyan itulah sampai perusahannya bisa besar sampai sekarang.
Jadi siapa yang mau daftar jadi tukang bawa tas.......


Elly dan penghargaan prestasi di negeri ini


Kenangan siapa yang tidak kembali melayang ke era 80-an oleh berita beberapa waktu yang lalu dengan tertangkapnya seorang Ellyas Pical dalam pengrebekan ekstasy pada sebuah diskotik di kawasan Jakarta Barat, Rabu (13/7), dimana dia bekerja sebagai satpam. Juga ulasan mengenai kehidupannya kini yang sulit dan kekurangan di berbagai media.

Tanpa melakukan pembelaan terhadap perbuatan melanggar hukum yang dia lakukan mari kita menengok kembali. Ketika itu gelora dan semangat seluruh anak bangsa bangkit dengan dipersembahkannya sabuk Juara Dunia Tinju Versi IBF oleh seorang pemuda lugu asal Saparua, Maluku. Harga diri bangsa ini seakan terangkat, ternyata kita bisa sejajar dengan bangsa lain di dunia Olahraga. Namun sebuah prestasi tingkat dunia itupun rupanya tidak cukup mengantarkan Elly untuk dapat hidup layak sampai hari tuanya, sehingga dia hanya bekerja sebagai seorang satpam untuk memenuhi kebutuhan hidup kini.

Masyarakat kita sering melupakan dan cuek dengan prestasi serta pengorbanan putra-putrinya yang diukir dengan susah payah. Begitu mudahkah jalan menggapai suatu prestasi tingkat dunia sehingga atlet veteran juara dunia bisa dilupakan begitu saja dengan mudah? Kecenderungan ini bukan hanya terjadi pada seorang Ellias Pical. Banyak kita temui Atlet kita yang berjasa mengharumkan nama baik bangsa di level internasional hidup miskin dimasa tuanya. Bila kita tengok lagi, bahkan penghargan prestasi yang diberikan untuk bidang lainpun tidak kalah memprihatinkannya. Dalam dunia science kita terbukti memiliki banyak talenta muda dan berbakat pada ilmu fisika, matematika, kimia dan biologi. Mereka sudah membuktikan kemampuannya diajang Internasional dengan berkompetisi dan merebut banyak medali pada lomba olimpiade ilmu pengetahuan dunia ataupun tingkat Asia. Tetapi apa yang mereka dapatkan dari masyarakat Indonesia. Hanya sebuah berita kecil di surat kabar dan selanjutnya terlupakan.

Lantas siapakah yang pantas dikagumi, dihormati dan disanjung oleh masyarakat negeri ini? Siapakah yang pantas menjadi idola, mendapat penghargaan yang layak dan dicontoh generasi muda kita? Apakah seorang wanita cantik atau pemuda ganteng yang sedang "window shopping" lenggak-lenggok di mall yang lantas beruntung ditemukan pencari bakat sinetron? Apakah hanya karena fisik cantik dan ganteng atau blasteran lantas menjadi idola dan dipuja-puja? Dimanakah mimpi dan cita-cita generasi muda kita pantas ditempatkan? Bermimpi memperbaiki fisik dan penampilan semata? Aataukah mencari jati diri dengan berkompetisi di ajang pendidikan dan olahraga yang sangat penting manfaatnya bagi “character building” sebuah bangsa.

Pertanyaannya lantas, apakah generasi muda dan para orangtua akan tertarik dan mensuport anaknya dengan adanya kenyataan masyarakat yang tidak menghargai sebuah prestasi dalam bidang pendidikan dan olahraga. Dimana nantinya mereka hanya akan menjadi seorang yang menghabiskan masa indah mudanya dengan giat belajar dan berlatih dengan susah-payah demi mengukir prestasi. Melupakan sebagian kesenangan dimasa muda, dan selanjutnya hidup sia-sia dengan kemiskinan setelah prestasinya memudar atau terlupakan oleh masyarakat.

Bandingkanlah dengan perlakuan dan keadaan di negara-negara maju saat ini. Dimana seorang yang berprestasi dalam bidang science dan olahraga mendapatkan perlakuan yang sangat istimewa sehingga menjadi idola. Beasiswa, penghargan pemerintah, tunjangan kehidupan dan lain-lain akan menghampiri seiring prestasi yang diukir. Pemuda-pemudi disana akan tertantang berlomba-lomba mengikuti jejak mereka dengan belajar keras, berlatih keras dan menepa diri. Bukan dengan bersolek dan bermimpi seperti yang ditawarkan komunitas bangsa kita kini. Di Jepang dan Amerika muka-muka para atlet dan ilmuwan muda sehari-hari menghiasi seluruh media yang ada. Menjadi tamu dalam acara talk show, diskusi dan variety show. Mereka diikuti perkembangan kesehariannya, dikupas perjalananannya sampai menjadi seorang juara sehingga dapat menjadi teladan dan contoh bagi masyarakat lainnya. Bila telah menjadi atlet veteran, mereka tetap dikenang dan menjadi selebritis abadi, selalu muncul dalam TV dan liputan media sehingga masa tua mereka terjamin.

Dalam budaya jepang ada sebuah pepatah: "Berkata sesuai dengan apa yang dilakukan". Para peraih prestasi ini akan selalu didengar dan diikuti apa tutur katanya dan dijadikan referensi masyarakat karena mereka telah membuktikan dengan apa yang mereka capai. Jadi bukannya seorang yang belum berbuat apa-apa dan hanya karena penampilan fisik semata yang di ekspos oleh media lantas dijadikan bahan perbincangan, trend dan acuan generasi muda.

Pemerintah harus tergerak dengan adanya kasus Elly ini dengan makin memperhatikan mereka, karena mereka juga seorang pahlawan. Mass media kita juga harus memulainya dengan menciptakan selebritis-selebritis dari bidang olahraga dan science. Serta masyarakat kita pun harus mulai menyadari itu semua dengan merubah imej arti sebuah prestasi. Sebelum kita menjadi bangsa yang dengan mudah ditaklukan bangsa lain karena lemah dan tidak berilmu.


Foto Bareng

Monday, November 28, 2005
Warna-Warni, mungkin itu yang tampak. Mahasiswa Rendai, Kagoshima Univ memang berasal dari seluruh kontinent yang ada dibelahan dunia. Sayang kami jarang sekali berkumpul dan foto ini diambil sebelum acara perkuliahan umum dimulai.


Ballon Fiesta

Monday, November 07, 2005

Ballon Fiesta adalah sebuah Event International balon gas yang lebih dari dua dekade secara rutin di laksanakan di kota Saga. Pesertanya datang dari seluruh dunia untuk memamerkan berbagai bentuk dan jenis ballon dari negara mereka. Biasanya selain menampilkan berbagai perlombaan ketangkasan yang berhubungan dengan ballon panitia mengaadakan pula berbagai atraksi-atraksi menarik misalnya Air show, ketrampilan motor cross, pameran dirgantara dll. Tentu saja termasuk pasar malam yang full dengan berbagai souvenir, permainan dan jajanan yang menggugah selera.

Silakan melihat foto-foto ballon yang sempat kami ambil gambarnya pada album kami atau mengunjungi official website di http://www.netcom.gr.jp/balloon/2005sibf/index_e.htm

Bagi penduduk kota kecil seperti Saga, acara tahunan ini sangat dinanti dan menjadi salah satu hiburan yang wajib dikunjungi menyaambut datangnya musim dingin.

Ballonku ada.......


Lebaran ke-5 di Negeri Jepang

Thursday, November 03, 2005
Perasaan lebaran tahun ini.....sedikit lebih baik. Alhamdulillah ....soalnya sudah agak terbiasa ......setelah 5 kali berlebaran di Saga buat saya, dan 4 kali bagi istri. Kesahduan berlebaran dinegeri orang tanpa sanak keluarga dan hanadai taulan bisa menjadi hikmah tersendiri.

Lebaran tanpa merdunya gema takbir dari masjid serta beduk keliling, suasana ceria anak-anak menyambut hari kemenangan dan wanginya aroma masakan khas Hari raya. Tentu Makna sesungguhnya Perayan Idul Fitri bukan terletak pada simbol simbol kesemarakan dan pernak-pernik dalam penyambutannya.

Kesadaraan untuk kembali kepada Fitrah dan semangat untuk mempertahankan sesuatu yang baik dari ibadah bulan Ramadhan merupakan jiwa dari perayaan. Niat untuk terus belajar dan memperbaiki diri dihari-hari yang akan datang untuk mencapai tingkatan yang lebih tinggi dari iman merupakan spirit yang harus ditanamkan.

Salam dari kami sekeluarga bagi saudara, sahabat daan rekan-rekan yang ada ditanah air.
Selamat Idul Fitri 1426 Hijriah.

Kuntoro Boga dan Saida Ulfa