<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d11454894\x26blogName\x3dlife+goes+on\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dTAN\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://bogablogger.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den_US\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://bogablogger.blogspot.com/\x26vt\x3d6766887043850976146', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>
 

HAPPY NEW YEAR 2006

Friday, December 30, 2005



Restoran 100 yen

Saturday, December 17, 2005
Kalau bicara tentang shusi,shashimi,shabu-shabu pasti langsung teringat dengan Jepang.Bangsa Jepang terkenal sebagai penyantap ikan mentah sejak dahulu kala. Tapi sebenarnya bukan cuma ikan mentah saja yang jadi kegemaran mereka, tapi termasuk juga daging sapi, kuda, dan hampir semua tumbuhan dan hewan laut. Mereka sangatlah menikmati rasa asli dari bahan makanan segar itu sendiri, misalnya rasa manis dari udang atau telur ikan (ikura) dll. Sampai-sampai kami berkesimpulan, perbedaan lidah/selera orang Indonesia dan Jepang dari segi makanan ialah orang Indonesia akan mengatakan lezat atau enak bila masakan tersebut sudah diolah, rasa asli bahannya sudah tidak ketahuan lagi karena sudah ditutupi rempah – rempah. Sebaliknya orang Jepang akan langsung bilang osihisou…(sangat lezat nampaknya) ketika pertama kali melihat bahan mentahnya tanpa campuran apapun.

Walaupun makanan Jepang terkenal minimalis rasa akan tetapi sebenarnya sangat bagus untuk kesehatan tubuh. Misalnya, karena masakan mereka sangat jarang menggunakan bahan yang mengandung lemak seperti misalnya minyak kelapa, santan dll. Mungkin ini salah satu rahasia panjang umur mereka.

Di dekat apartemen kami, ada restoran shuusi (shushi ya san ) favorit kami, tredmark-nya restoran 100 yen (hyaku en shushi). Selain harganya terjangkau, sepiring ada dua biji shushi dengan harga 100 yen. Bedanya shushi sama shasimi, kalau shushi dibawah ikan mentah yang di filet diberi nasi dan ditengahnya diberi sedikit wasabi (wasabi ini untuk antiseptic ,rasa pedasnya bisa sampai ke hidung dan katannya bagus untuk obat gejala flu). Sedangkan kalau shashimi hanya filet-an ikan mentah. Seperti yang saya sebutkan diatas, bahan shushi bukan cuma ikan tapi bisa juga daging sapi,kuda,gurita(tako),cumi (ika) ,udang, dsb.

Tentu mereka sangat menjaga kebersihan dan kwalitas bahan, misalkan shushi yang tidak laku, ikan dan nasinya di pisah, ikan nya akan di goreng tempura dan kemudian di jual lagi. Masakan ini seringnya malah kami tunggu karena cocok dengan lidah kita yang manja dengan bumbu.
Seperti biasanya, pelayan restoran dalam menyambut pelanggan yang datang berkunjung akan berteriak serempak mulai dari kasir samapi semua koki di dapur “irasshaimase” (selamat datang) dan ketika pulang mereka pun berteriak serempak lagi “Arigatou Gozaimashita” sambil semua membungkuk sampai kami merasa tak enak bagai raja saja hehehehehe. Biasanya, setiap kali kesana kami rutin memesan makanan yang tetap disesuaikan dengan selera lidah Indonesia, sampai pelayan restoran tersebut hafal akan jenis dan jumlah yang kami pesanan, selalu berupa menu ebi ten udong (semacam mie pangsit tanpa bumbu, bumbunya hanya kaldu teri ), ebi furai maki (udang goreng tempura di bungkus pakai nori/rumput laut), ebi shusi dan tentu saja ikan tempura dari sisa ikan yang sudah tidak fresh. Menu yang kami pesan tersebut tentu saja semuanya sudah diproses, jadi tidak mentah karena sudah di rebus atau dibakar. Sesekali saja untuk challenge kami ambil dari conveyer salmon, tuna atau cumi shuusi, yang rasanya tidak terlalu amis. Di rumah makan ini juga tersedia teh hijau hangat racik sendiri yang dapat diminum sepuasnya (nomihodai).

Saat ini banyak makanan dan restoran Jepang yang telah Go Internasional, disukai banyak orang diberbagai tempat di penjuru dunia. Tapi disisi lain ada beberapa orang yang masih belum terbiasa dengan hidangan tradisional khas Jepang, termasuk mungkin juga sebagian generasi muda mereka yang terbiasa dimanja dengan derasnya berbagai sajian dari manca Negara. Selain juga banyak masakan sehari-hari mereka yang sudah terpengaruh bumbu dan resep dari Cina, Amerika, dan juga Eropa.


Stobu

Friday, December 09, 2005
Daun momiji (maple ) berguguran menandakan musim gugur (aki) telah tiba. Pemandangan kota Saga pun berubah, dari hijau berubah jadi merah dan kuning. Di sebagian kecil tempat di Jepang ada bunga sakura yang mekar di musim gugur, padahal idealnya sakura itu mekar di bulan maret yang menandakan musim semi. Di kampus kami pun ada satu pohon bunga sakura yang mekar nya malu-malu (hanya beberapa kuntum). Udara berubah dari panas menjadi sejuk. Tapi udara sejuk ini hanya berlangsung 2 bulan saja, awal November udara dingin dari Cina pun mulai berhembus.

Walaupun Saga berada di pulau Kyushu, Jepang, tetapi musim dinginnya lumayan menggigit (suhu terendah -3 C). Salju pun turun, tetapi tidak sederas di bagian utara Jepang. Sebagai orang yang hidup dan besar di Indonesia, cuaca adalah masalah yang terbesar bagi kami. Untuk menghadapi musim dingin, kami pun harus bersiap-siap. Baju musim panas mulai disimpan, dan baju musim dingin pun mulai dikeluarkan dari oshire (lemari). Tidak hanya baju dingin yang kami persiapkan tetapi Stobu (penghangat) pun mulai keluar satu persatu.

Di setiap Negara yang mempunyai musim dingin, pasti punya cara lain mengatasi musim dingin ini. Di Jepang selain menggunakan AC penghangat, juga menggunakan stobu. Di semua toko elektronik di Jepang di awal musim dingin mulai di jual berbagai jenis Stobu. Mulai dari listrik sampai yang menggunakan minyak tanah.

Stobu sebenarnya berasal dari bahasa Inggris stove atau kompor, tetapi karena bahasa Jepang tidak punya lafal yang berakhiran konsonan, sehingga lafal stove, berubah jadi stobu. Sama halnya kalau mereka menyebut lafal red berubah menjadi reddo.

Selama tiga tahun lebih tinggal di Saga, tak terasa kami pun mengoleksi bermacam – macam Stobu. Ada yang kami beli dari toko seken (Chuko), ada yang baru ada pula warisan dari teman yang sudah pulang ke Indonesia. Bulan lalu kami menambah koleksi stobu kami, dengan membeli stobu baru yang memakai minyak tanah. Alasannya selain jauh lebih hangat daripada stobu dari stobu listrik, kami pun bisa masak air di atasnya, lumayan bisa memanfaatkan energi yang terbuang. Akhirnya stobu minyak tanah ini jadi stobu inti kami ,stobu yang lain di tempatkan di setiap ruangan dan hanya di nyalakan sesaat saja.



Ini stobu inti yang menggunakan minyak tanah. Kami letakkan di ruang utama. Persis seperti kompor. Digunakan hampir setiap saat kecuali waktu tidur. Untungnya pemanas ini tidak mengeluarkan bau seperti kompor yang biasa digunakan ibu-ibu di Indonesia heheheheheh....






Ini pemanas yang paling umum digunakan. Menggunakan filamen dan listrik. Jumlah filamennya bisa ber macam-macam dari satu sampai 4 buah dan setiap batangnya menggunakan daya 400 w.
Biasanya kami letakkan di dekat meja komputer atau meja makan






Pemanas ini menggunakan filamen dan kipas. jadi angin yang keluar sangat hangat dan nyaman. Daya yang digunakan 1200 w.
Saat ini kami letakkan di depan pintu toilet heheheh.......








Ini alat pemanas yang paling efisien dan nyaman. Menggunkan kombinasi Minyak untuk pembakarnya dan listrik untuk kipas. Angin yang dikeluarkan sangat besar dan hangat. Karena sudah lama dipakai saat ini alat ini kami gunakan untuk memanasi dapur.






Nah ini variasinya dan saat ini kami simpan sebagai cadangan...siapa mau....



OPEN CAMPUS 2005

Tuesday, December 06, 2005
Akhir November yang lalu diadakan acara open campus Saga University yang biasa diadakan tiap awal semester, 2 x satu tahun.

Kegiatannya lebih pada upaya mengakrabkan sesama mahasiswa khususnya para senior dengan juniornya atau pendatang baru tiap-tiap lab atau jurusan yang ada.


Disini mereka bergabung dengan membuka stand dan memamerkan apa saja!!! yang penting kreatif dan menyalurkan bakat serta energi dan dalam suasana keakraban. Sebagian besar membuka stand makanan kreative hasil masakan mereka sendiri dan dijual kepada pengunjung. Ngeband, dance dll juga ada. Yang penting gak destructive lah heheheh (seperti tawuran atau lempar-lemparan batu dalam kampus seperti di #"$;?:^>.:+..!!! )

Mahasiswa asing juga tidak mau ketinggalan dengan unjuk kebolehannya baik berupa tari, permainan tradisional dll dan tentu stand makanan. PPI-Saga kali ini menhadirkan atraksi tari bambu yang dibawakan dengan kocak oleh teman-teman undergraduate dan space. Juga "ibu-ibu" gak mau kalah dengan unjuk kebolehannya membuat kue pastel dan minuman Sarabah khas Sulawesi Selatan. Lumayan laris juga sih makanan kita dan tidak kalah bersaing dengan stand sebelah dari Thailand dan China.
11:51 PM :: 4 comments ::

Kuntoro Boga :: permalink


HAPPY BIRTHDAY

Thursday, December 01, 2005
Buat Mas Boga yang hari ini berulang tahun :

Tanjyoubi Omedetou Gozaimasu.........

Semoga dengan bertambahnya umur kita, Allah Subhanahu Wataala, makin menambah iman kita kepada-Nya. Dan Semoga Allah Subhahu Wataala, memberikan umur yang panjang,kesehatan, rezki yang halal,anak shaleh , keluarga sakinah kepada kita semua. dan juga semakin dewasa dan bijak dalam menghadapi persoalanhidup. Kore kara O karada ni ki o tsukemashou......Isshoni Gambarimashou...!!!