<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d11454894\x26blogName\x3dlife+goes+on\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dTAN\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://bogablogger.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den_US\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://bogablogger.blogspot.com/\x26vt\x3d6766887043850976146', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>
 

Oleh-Oleh (Sarana Umum)

Monday, September 12, 2005
Ketika ditanya apa oleh-oleh pulang kampung beberapa waktu yang lalu? saya sempat terhenyak! Karena secara fisik barang yang dapat dibawa pun sangat terbatas sekitar 25 Kg per orang. Itupun sudah sesak dengan quota bumbu-bumbu, indomie dan aneka macam makanan kering khas kampung heheheheh
Tapi keterbatasan dalam kuantitas ini untungnya dapat tertutupi dan sangat sedikit jika dibandingan dengan oleh-oleh immaterial lain yang kami bawa pulang.

Tidak percuma perjalanana international 12 jam putus-putus -naik-turun- yang mirip bis kejar trayek dari bandara international Fukuoka via Taiwan-Hong Kong-Singapore sebelum tiba di Jakarta. Maski perjalanan yang ditempuh sangat panjang dan melelahkan. Alhamdulillah kami masih diberi keselamatan untuk dapat menempuh jalur darat dan udara domestik Jakarta-Purwokerto lanjut ke Malang-dan balik Purkokerto-Jakarta sebelum meneruskan ke Jakarta-Makasar – Pangkep dan pulang melalui jalur Makasar-Surabaya, sebelum balik melanjutkan penerbangan international via Hong Kong. Tour yang melelahkan, medebarkan tapi juga menyenangkan karena namanya juga Mudik. Banyak kesan yang kami dapat dalam liburan tahun ini antara lain mengenai sarana transportasi dan fasiltas umum negeri kita tercinta.

1.Kesan kami, sarana transportasi kita kita sungguh minim dan makin amburadul saja.
Contoh kecil, bandar udara yang merupakan pintu halaman dan muka negeri kita masih semrawut dan minim fasilitas ditambah aparat yang bertugas pun kurang simpatik dan berkesan bukannya menolong pengguna jasa tetapi malah mencari keuntungan sendiri tanpa perduli tugas dan fungsi mereka. Hal yang lebih parah bisa dijumpai di stasiun kereta dan terminal yang sesungguhnya merupakan urat nadi segala kegiatan masyarakat. Pertanyaan saya dimana mata dan hati para pengelola saran transportasi di negeri kita? Tuan tuan petinggi dan pejabat yang juga menggunakan sarana tsb setiap hari!! Ini baru tempat penumpang berkumpul, belum menyentuh substansi transportasi-nya. Bagaimana dengan kenyamanan berkereta, berkendaraan, keselamatan dan keamanan dll? Jangan bertanya sejauh itu dulu....kita masih membangun kok hehehehheheeh....

2. Fasilitas umum yang ada kayaknya gak ada perubahan dalam 10 tahun terakhir ini deh. Padahal jumlah orang makin banyak, teknologi meningkat dll. Tapi kok belum ada perubahan kea rah yang lebih baik untuk WC, taman, kebersihan tempat umum, jalan dan ketertiban pengendara dll.

3. Tentunya kami tidak mau keindahan pulang kampung terganggu dengan hal diatas. Kami sangat mencintai kampung halaman, sanak famili, teman dan lain-lain. Kenyatannya mereka sangat membantu sekali masa liburan ini. Kemanpun pergi baik untuk research, berlibur, survey dll mereka selalu mengantar jemput, meminjami mobil, motor, perahu, akomodasi, membelikan tiket dll. Yang tidak kalah penting informasi tentang lokasi dan objek yang harus kita kunjungi baik tempat makan, hiburan dll. Ini tentu menjadi nilai plus bagi kepulangan tahun ini sehingga terasa maksimal dalam melewatinya. Di manapun bila ada saudara, kawan ataupun kenalan kita bisa menggunakan fasilitas mereka dengan santai dan nyaman. Pengalaman sewaktu mengunjungi Pulau Karangrang, meskipun harus 1 jam menggunakan perahu tempel dari kota Pangkep (....kebetulan mengikuti saudara yang sedang bertugas disana jadi bisa ikut sekalian numpang pergi...). Di pulau yang cukup exsotis tsb banyak juga kenalan keluarga istri. Merekapun dengan senang meminjamkan sampan, menyediakan ikan dan makanan lain, bahkan kami bisa bermalam di rumah pak camat pulau tersebut yang menjamu dengan suka cita.

Bagaimanapun juga, dengan kondisi negara kita yang masih berantkan pun, kami masih enjoy dan sangat menikmati tour di negeri kita sendiri.........
4:47 PM :: ::
2 Comments:
  • Biar gimana, friend, yang namanya Indonesia itu ada dua yang paling ngga bisa diharapkan.
    Pertama 'koordinasi' dan kedua 'merawat'.

    Berani taruhan, sepuluh tahun lagi pun masih gini-gini aja!

    -hanin

    By Anonymous Anonymous, at 12:53 PM  
  • Setuju Han..., tapi mudah-mudahan setelah sepuluh tahun itu semuanya berubah jadi lebih baik yach hehehehe...

    By Blogger Kuntoro Boga, at 1:20 PM  
Post a Comment
<< Home

Kuntoro Boga :: permalink